Duo Manchester kuasai papan atas

73
Penyerang Manchester City Sergio Aguero merayakan gol ke gawang Watford pada pertandingan Liga Primer Inggris di Stadion Vicarage Road, Watford, Sabtu (16/9/2017).
Penyerang Manchester City Sergio Aguero merayakan gol ke gawang Watford pada pertandingan Liga Primer Inggris di Stadion Vicarage Road, Watford, Sabtu (16/9/2017).
© Will Oliver /EPA-EFE

Persaingan antara dua klub kota Manchester di Liga Primer Inggris tampaknya bakal berlangsung sengit pada musim ini. Pada akhir pekan lalu, keduanya merebut kemenangan besar atas lawan masing-masing dan kini menempati dua posisi atas klasemen dengan nilai, gol memasukkan, dan gol kemasukan yang identik setelah lima pertandingan.

Manchester City meremukkan tuan rumah Watford 6-0 pada Sabtu (16/9). Sehari kemudian, Manchester United menundukkan Everton 4-0 di Old Trafford.

Kedua tim kini mengumpulkan 13 poin dari 4 menang dan 1 imbang. Baik City maupun United sama-sama telah mencetak 16 gol dan kebobolan 2 gol. Mereka unggul tiga poin dari juara bertahan Chelsea yang ditahan imbang 0-0 oleh Arsenal pada Minggu (17/9).

Pada klasemen, tampak City ditempatkan pada posisi pertama, sementara United di bawahnya. Mengapa demikian?

Ternyata alasannya adalah urutan abjad–C lebih dulu daripada U.

Melihat permainan apik The Citizens dan The Red Devils pada awal musim ini, bukan tak mungkin situasi serupa ini terjadi pada akhir musim. Lantas, jika hal itu terjadi, apakah berarti City bakal menjadi juara karena faktor urutan abjad?

Jawabannya, tidak.

Apakah ditentukan oleh hasil dua pertemuan antara kedua klub, alias head-to-head, pada musim 2017/18 ini?

Ternyata juga tidak.

Peraturan Liga Primer Inggris (fail pdf) bagian C.17. menetapkan, jika ada dua tim atau lebih yang memiliki poin, selisih gol, dan jumlah gol memasukkan sama pada akhir musim, untuk menentukan sang juara akan diadakan pertandingan play-off di arena netral.

Memang musim masih panjang, ada 33 pertandingan yang mesti dijalani. Tetapi duo Manchester itu telah menunjukkan betapa mereka adalah tim yang menakutkan dan berpeluang besar melanjutkan dominasi hingga akhir musim.

Apalagi, selain Chelsea, klub-klub besar lain yang digadang bisa meramaikan persaingan–Arsenal, Liverpool, dan Tottenham–tampak tertatih untuk mencapai kestabilan di tingkat teratas.

Pep Guardiola tampaknya sudah menemukan formula yang tepat untuk membawa City ke tampuk juara musim ini. Sang pelatih berhasil memadukan Sergio Aguero dan Gabriel Jesus untuk menjadi duo nan tajam.

Pada tiga pertandingan terakhir, termasuk satu di Liga Champions, City telah mencetak 15 gol tanpa kebobolan. Mereka menggasak Liverpool 5-0 dan menang 4-0 atas Feyenoord, sebelum melumat Watford.

Aguero mencetak total lima gol pada tiga pertandingan itu–termasuk trigol ke gawang Watford–, sementara Jesus menambah empat gol.

Aguero – Jesus Partnership:
Starts Together: 8
Aguero Goals: 9
Jesus Goals: 7
Total Assists: 6
Directly involved in 22 goals in 8 games 🔥 pic.twitter.com/fStyw955Pm

— City Chief ️ (@City_Chief) September 16, 2017

Ketika dibeli Guardiola pada bursa transfer Januari 2017, Jesus sebenarnya disiapkan untuk menggantikan Aguero yang saat itu mulai berkurang ketajamannya. Oleh karena itu, sempat beredar gosip panasnya hubungan antara mereka berdua.

Namun saat dipasang sebagai duo ujung tombak dalam formasi 3-5-2 ternyata pemain asal Brasil dan Argentina itu bisa bekerja sama dengan baik.

"Mereka berdua adalah orang-orang baik dan pemain yang luar biasa. Hubungan antara mereka juga top," kata Guardiola usai pertandingan melawan Liverpool.

Ia tak menampik bahwa setiap striker ingin selalu mencetak gol, namun ia yakin kedua pemain itu paham saat di mana mereka mesti membagi bola dan membiarkan rekannya menjebol gawang lawan.

"Saya tidak ingin hanya dua atau tiga pemain yang mau bertahan atau yang mencoba mencetak gol. Saya ingin semua bertahan dan semua menyerang. Saya ingin melihat pemain bergerak ke arah bola, khususnya para penyerang," tegas Guardiola.

Selain duo tersebut, bek tengah John Stones semakin menunjukkan kematangan bermain dalam usia relatif muda, 23 tahun. Lalu ada gelandang bertahan Fernandinho yang selalu siap merebut bola dari kaki lawan untuk diteruskan kepada David Silva atau Kevin De Bruyne.

Intinya, Guardiola memiliki skuat yang lengkap dan kuat untuk bisa membawa Manchester City berjaya di Inggris, bahkan Eropa, pada musim ini.

Sementara itu, Jose Mourinho juga mulai membuktikan tuahnya di kubu Setan Merah. Gol-gol dari Antonio Valencia, Henrikh Mkhitaryan, Romelu Lukaku, dan Anthony Martial, ke gawang Everton memastikan bahwa mereka tidak tertekan oleh kemenangan City dan siap untuk bersaing.

Romelu Lukaku has scored 5 goals in his first 5 #PL matches for @ManUtd, a record matched only by Louis Saha & Robin van Persie pic.twitter.com/cCOZ3OSPgp

— Premier League (@premierleague) September 18, 2017

Absennya Paul Pogba kali ini tidak terlalu berpengaruh pada kemampuan United untuk mencetak gol. Marouane Fellaini bisa memberikan tambahan tenaga bersama Nemanja Matic di lapangan tengah.

Mourinho menyatakan para pemainnya kini mulai menemukan konsistensi dalam permainan.

"Saya pikir performa itu sangat bagus, khususnya pada 30-35 menit awal. Itu mungkin performa terbaik kami musim ini," ujarnya, dikutip Daily Star.

Walau demikian, menurut Mark Ogden dari ESPN FC, absennya Pogba tetap membuat kreativitas dan ketajaman United saat menyerang menjadi berkurang. Apalagi pola pergerakan Marcus Rashford mudah ditebak lawan.

Selain itu, pada beberapa pertandingan, United baru benar-benar panas dan tajam pada menit-menit akhir. Jika tidak segera memperbaikinya, mereka akan kesulitan saat berhadapan dengan lawan yang berani menekan sejak awal.

BERITAGAR.ID

SHARE
Previous articleDari Asing untuk Indonesia
Next articleLiterasi digital