Keluarga pemilik raksasa bisnis Korsel, Lotte Grup, diadili

88

Shin, Korea Selatan, Lotte

Hak atas foto
Reuters

Image caption

Shin Kyuk-ho, yang dilaporkan menderita demensia, hadir dalam sidang di ibu kota Seoul.

Empat anggota keluarga berpengaruh yang berada di belakang kerajaan bisnis Korea Selatan, Lotte Grup, diadili Seoul pekan ini.

Dan sidang Senin (20/03) menjadi semacam ajang reuni yang jarang antara pendiri kerajaan bisnis bernilai US$81 miliar atau sekitar Rp1.079 triluin ini, Shin Kyuk-ho yang berusia 94 tahun, dengan tiga anak tertuanya.

Dua putranya terlibat sengketa hukum untuk mengendalikan perusahaan sementara putrinya, Shin Young-ja, sudah mendekam di dalam penjara sejak Juli tahun lalu.

Mereka berempat didakwa pada Oktober 2016 dengan penggelapan, penghindaran, dan penipuan pajak.

Pengadilan atas mereka menjadi penting karena konglomerat raksasa milik keluarga di Korea Selatan -atau chaebol- biasanya tidak tersentuh hukum karena memiliki pengaruh besar akibat pertumbuhan ekonomi negara itu.

Namun dalam beberapa tahun belakangan, sejumlah chaebol dan anggota keluarganya menjadi sasaran kemarahan masyarakat karena korupsi dan juga kesenjangan ekonomi.

Hak atas foto
Reuters

Image caption

Shin Kyuk-ho memperlihatkan ketidaksenangannya dipanggil ke pengadilan.

Sidang hari pertama tampak dramatis dengan kehadiran kepala keluarga yang sudah sepuh, Shin Kyuk-ho, yang memperlihatkan ketidaksenangannya dipanggil ke pengadilan.

"Lotte adalah perusahaan yang saya buat, saya memiliki 100% sahamnya, siapa yang menuntut saya?" katanya sebelum melempar tongkatnya ke lantai.

Hakim kemudian meminta pendiri Lotte Grup itu untuk diam.

Bisnis dunia, termasuk di Indonesia

Laporan-laporan yang mengutip anak sulungnya mengatakan bahwa Shin menderita demensia -atau kehilangan ingatan- dan dia tampak bingung ketika memasuki ruang pengadilan dengan kursi roda

Shin menyerahkan kepemimpinan di kerajaan bisnis Lotte -yang mencakup hotel dan pusat pertokoan, termasuk di Indonesia- setelah disingkirkan anaknya pada tahun 2015.

Penasehat hukumnya mengatakan dia membantah semua dakwaan yang diajukan kepadanya.

Keluarga Shin diselidiki setelah perselisihan antara putra sulunga Shin Ding-Joo dengan adiknya menjadi perhatian umum pada tahun 2015.

Shin Dong-Joo yang disiapkan untuk menjadi penerus bapaknya dilangkahi adiknya yang berhasil memperluas bisnis Lotte Grup.

Persaingan sengit antara kedua saudara Shin memicu penyelidikan atas kerajaan bisnis itu yang menyebabkan 22 orang -termasuk empat anggota keluarga Shin- didakwa oleh jaksa penuntut.

Masalah di luar pengadilan

Lotte -yang merupakan konglomerat terbesar kelima di Korea Selatan- agaknya tidak hanya menghadapi masa sulit di dalam ruang sidang.

Sekitar 80% toko mereka di Cina sudah ditutup terkait sistem pertahanan rudal Amerika Serikat yang ditempatkan di Korea Selatan.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Putra sulung Shin Dong-Joo, tadinya disiapkan menjadi pemimpin Lotte Grup namun dilangkahi adiknya.

Lotte memberikan lahan untuk penempatan sistem Thaad, yang menurut Amerika Serikat dan Korea Selatan ditujukan untuk melindungi diri dari ancaman Korea Utara.

Namun kebijakan tersebut membuat Cina marah -yang berpendapat sistem pertahanan Thaad bisa digunakan untuk memata-matai mereka- dan menempuh aksi balas dendam ekonomi.

Hak atas foto
AFP

Image caption

Shin Young-ja mendekam di dalam penjara Shin Young-ja sejak Juli 2016 lalu.

Sejak skandal keuangan yang disidangkan menjadi perhatian umum, Lotte sudah menarik penjualan saham untuk unit perhotelannya senilai US$4,5 miliar atau sekitar Rp60 triliun.

Skandal itu juga dikaitkan dengan kematian saah seorang eksekutif puncaknya yang tampaknya merupakan bunuh diri.

Wakil Kepala Lotte Group, Lee In-wo, ditemukan tewas Agustus 2016 lalu, hanya beberapa jam sebelum ditanyai terkait dalam kasus yang menimpa perusahaan pimpinannya itu.

Original Article