Kisah Pemuda Nganjuk Nikahi Janda 67 Tahun

    129
    Rokim dan Tampi.
    Rokim dan Tampi.
    © Tangkapan layar Youtube /Tangkapan layar Youtube

    Tampi tampak ceria. Rabu (15/3/2017) menjadi hari yang istimewa bagi Tampi, warga Dusun Petung, Desa Nampu, Kecamatan Gemarang, Kabupaten Madiun. Setelah 52 tahun menjanda, perempuan berusia 67 tahun itu menerima pinangan Rokim, seorang pemuda usianya terpaut cukup jauh: 43 tahun.

    Tampi awalnya tak percaya dengan keseriusan Rokim yang berniat akan menikahi dirinya. “Saya kaget, minggu lalu ia datang ke rumah bertemu adik saya lalu melamar saya,” ujar Tampi tersipu malu.

    Awalnya Tampi yang sehari-hari menjadi tukang pijat itu menganggap Rokim hanya bercanda. Namun rupanya tidak. Selang beberapa hari kemudian, keluarga Rokim dari Nganjuk benar-benar datang untuk melamarnya.

    Perkenalan Tampi dan Rokim sebenarnya bukan dadakan. Rokim yang sehari-hari bekerja serabutan sudah mengenal Tampi sejak 2009, saat usianya masih 16 tahun. Rokim sering memakai jasa pijat Tampi manakala ia merasa kecapekan. Namun rupanya karena sering bertemu, Rokim jatuh hati. Seperti kata pepatah Jawa witing tresno jalaran soko kulino (cinta bersemi karena sering bertemu).

    Dan akhirnya tresno itu semakin mantab dalam setahun terakhir.

    Apalagi, Tampi juga selalu memberikan perhatian tulus saat Rokim datang ke rumahnya.

    “Saya menikahi Tampi karena cinta dan kasihan hidupnya yang menyendiri terus,” kata Rokim, di kediamannya di RT 9 RW 2 Dusun Petung, Desa Nampu, Kecamatan Gemarang, Kabupaten Madiun, Jumat ( 17 / 3/2017) seperti ditulis Kompas.com.

    Rokim mengaku tak menyesal menikahi janda uzur itu. Selama ini, ia mengaku juga sama sekali belum pernah pacaran dengan perempuan lain.

    Tampi merasa bersyukur masih ada orang yang mau mengawininya. Baginya, pernikahan dengan Rokim menjadi satu anugerah yang sangat luar biasa pasca menjanda 52 tahun lamanya.

    Tampi bercerita, sebelumnya ia pernah menikah dengan pria asal Ponorogo. Namun, pria suami itu meninggal dunia. Sejak ditinggal itu, Tampi menjadi. “Saya tidak memiliki anak pada saat pernikahan dengan orang Ponorogo itu. Saya mandul,” ujarnya, seperti ditulis Beritajatim com, Selasa (21/3/2017).

    Kondisinya yang mandul itu juga ia ceritakan kepada Rokim. Namun, Rokim dan keluarganya tetap mau menerima. “Saya sudah cerita semua. Dan Rokim menerimanya. Semoga abadi,” ujar Tampi tersipu.

    Modal nekat

    Kejadian unik sempat terjadi saat akad nikah dilangsungkan. Ketika penghulu menanyakan apa maharnya, Rokim terkejut dan clingak-clinguk. Untung sang calon istri sigap. “Saya langsung merogoh uang yang ada di tas saya sebesar Rp50.000 dan saya serahkan kepada Rokim,” kata Tampi.

    Melihat kejadian itu, penghulu yang menikahkan hanya bisa tertawa.

    Kepala Dusun Petung, Rahayu Slamet mengaku dia bersama istrinya ikut membantu kedua mempelai itu. Sebelum ijab kabul, kata Slamet, istrinya sempat mencarikan baju lengan panjang untuk dipakai Rokim nikah.

    Slamet mengaku salut dengan niat Rokim yang serius menikahi Tampi. Ia pun berharap pernikahan itu akan berlangsung langgeng hingga maut memisahkan keduanya.

    Original Article