Kontroversi penangkapan Marcus Hutchins si penakluk WannaCry

124
Ilustrasi seorang peretas yang tengah bekerja di depan komputernya.
Ilustrasi seorang peretas yang tengah bekerja di depan komputernya.
© Nonwarit /Shutterstock

Pada bulan Mei lalu, dunia dihebohkan oleh sebuah malware bernama WannaCry yang menyerang ribuan pengguna internet di seluruh dunia. Namun untungnya, insiden tersebut tak berlangsung lama, karena serangan masif tersebut berhasil dihentikan oleh seorang pemuda asal Inggris, yaitu Marcus Hutchins.

Pemuda berumur 22 tahun ini yang juga dikenal sebagai Malware Tech di media sosial tak sengaja menemukan sebuah "tombol mematikan" tersembunyi di virus ransomware WannaCry. Ia mendaftarkan domain yang ia beli dengan harga USD10,69 (Rp142 ribu) saja. Hasilnya, penyebaran virus tersebut berhenti.

Namun, seperti dilansir Telegraph (4/8/2017), belakangan ini, nama Marcus Hutchins mulai menjadi pembicaraan hangat kembali baik di dalam maupun di luar negeri. Pasalnya, pemuda tersebut ditangkap oleh Badan Intelijen Amerika Serikat (FBI) saat berada di konferensi peretas di Las Vegas. Mengapa?

Menurut sebuah surat dakwaan yang dikeluarkan Departemen Kehakiman AS pada Kamis (3/8), pemuda 22 tahun tersebut ditangkap karena dugaan keterlibatannya membuat program jahat antara tahun 2014 dan 2015 yang menyerang perbankan dan mencuri uang nasabah.

Program jahat tersebut bernama Kronos dengan jenis trojan. Malware Kronos menyebar melalui surel dengan membawa dokumen lampiran berbahaya seperti Microsoft Word yang telah disisipkan virus. Lalu, virus tersebut akan mencuri password internet banking dan mencuri uang nasabah dengan mudah.

Alhasil, ia didakwa enam tuduhan dan dapat dibui maksimum 40 tahun jika ia memang terbukti bersalah atas dakwaan tersebut.

Three months ago, Marcus Hutchins was a hacking hero. Now he's arrested and something seems fishy. https://t.co/uQWmBwdnDi

— Nicholas Thompson (@nxthompson) August 4, 2017

Untungnya, dinukil The Register (4/8), Hakim di Las Vegas menetapkan uang denda sebagai jaminan pembebasan sebesar USD30.000 (Rp399,5 juta). Dan seharusnya, Marcus dibebaskan pada Jumat lalu, namun karena urusan administratif, ia baru akan keluar dari tahanan pada Senin (7/8).

Jika ia bebas nanti, Marcus harus memakai sebuah alat GPS setiap saat, serta tidak dapat menggunakan komputer dan mengakses internet. Ia juga harus tinggal di Amerika Serikat alias tidak bisa pindah tempat ke negara lain.

Hutchins dikabarkan beraksi bersama dengan rekannya yang tidak disebutkan identitasnya. Hutchins dituduh menciptakan Kronos dan sang rekan kemudian menjualnya dengan harga USD2.000 (Rp26,6 juta) secara daring pada Juni 2015.

Namun, menurut Tor Ekeland, seorang pengacara spesialis siber, kasus yang dialami Hutchins tidak berat karena tidak ada satu tuduhan yang menyebutkan dia menghasilkan uang atau siapa pun yang membahayakannya.

Sang ibu, Janet Hutchins bahkan tidak percaya anaknya terlibat dalam upaya kriminal yang berhubungan dengan peretasan. Ia dikenal sebagai sosok yang mendedikasikan hidupnya untuk melawan malware dan aksi peretasan. Demikian dijelaskan Kompas (4/8).

"Saya sangat marah dengan insiden penangkapan ini," kata sang ibu.

Hal serupa diungkap teman Marcus Hutchins yang enggan disebutkan namanya. Menurut dia, Marcus Hutchins bisa saja dijebak karena ada pihak yang tak suka dengan kinerja sang Pahlawan WannaCry untuk membasmi malware.

"Ada jutaan kemungkinan skenario untuk menjebaknya" kata si teman.

Andres Mabbitt, pendiri perusahaan keamanan siber yang melakukan perjalanan ke konferensi dengan Marcus pun mengatakan bahwa dia tidak mempercayai tuduhan tersebut terhadapnya. "Dia menghabiskan karirnya untuk menghentikan malware, bukan membuatnya," seperti cuitan Mabbitt yang dikutip Independent (4/8).

Sementara itu agen spesial FBI, Justin Tolomeo, membantah berbagai kecurigaan dari semua pihak atas kesalahan Marcus Hutchins. Ia mengklaim pihaknya tak mungkin salah menangkap orang.

"Biaya untuk penelusuran kejahatan siber mencapai miliaran dolar AS setiap tahun. FBI akan terus bekerja dengan mitra, baik domestik maupun internasional, untuk membawa orang-orang yang bersalah ke pengadilan," ia menjelaskan.

BERITAGAR.ID