Literasi digital

34
Ilustrasi: Perlu percepatan program akselerasi literasi.
Ilustrasi: Perlu percepatan program akselerasi literasi.
© one photo /Shutterstock

Pada 8 September 2017 ini, ada peringatan International Literacy Day atau Hari Aksara Internasional (HAI). Perayaan HAI tahun 2017 ini, UNESCO mengusung tema "Literacy in a Digital World".

Kemendikbud menafsirkan tema itu menjadi "Membangun Budaya Literasi di Era Digital". Tujuannya, untuk melihat jenis keterampilan keaksaraan yang dibutuhkan orang untuk menavigasi masyarakat yang dimediasi secara digital, dan mengeksplorasi kebijakan keaksaraan yang efektif.

Tafsir Kemendikbud tentang literasi ternyata sudah menyesuaikan zaman. Seharusnya literasi fokus pada aspek digital, bukan pada literasi manual. Namun, yang dimaksud Kemendikbud adalah "literasi di era digital" bukan "literasi digital" secara komprehensif.

Digital bukan sekadar era, melainkan sudah menyatu dengan kemampuan literasi itu sendiri tentang cara mendapatkan informasi daring secara bijak dan beretika. Internet, media sosial (medsos) dan alat-alat digital menjadi kebutuhan primer masyarakat modern. Dalam waktu 24 jam sehari, kita tak bisa lepas dari internet, ponsel dan medsos. Saking pentingnya internet, ada idiom "harta-tahta-kuota" sebagai kebutuhan dasar hidup.

Pada 2016, Facebook Indonesia melaporkan angka pengguna aktif bulanan jejaring sosial tersebut kini sudah mencapai angka 88 juta di Indonesia. Jumlah pengguna Facebook mengalami kenaikan dibandingkan sebelumnya sebesar 82 juta pengguna pada kuartal keempat 2015. Para pengguna gadget Indonesia rata-rata mengecek ponselnya lebih dari 80 kali setiap hari. Sebanyak 14 kali dari jumlah itu adalah untuk menengok Facebook.

Sesuai laporan riset We Are Social dan Hootsuite yang dirilis di LinkedIn, Jumat (21/4/2017), Indonesia berada di posisi 4 di dunia dengan pengguna Facebook paling aktif. Namun, bagaimana dengan masyarakat pelosok? Tentu berbeda dengan masyarakat kota.

Tertinggal Jauh

Mengajak masyarakat membaca harus menyesuaikan karakternya. Sebab, melihat budaya baca yang lebih intens di dunia maya, sangat lucu ketika kita promosi bahan baca cetak. Misalnya, buku, jurnal, kitab kuning, naskah kuno, majalah, koran dan sejenisnya. Masyarakat kini lebih nyaman membaca bahan bacaan berbasis elektronik seperti e-book, e-journal, e-paper dan lainnya.

Era digital harus ada konversi makna dari manual ke digital. Lipton dan Hubble (2016:13) menjelaskan literasi tidak sekadar kemampuan elementer membaca, menulis dan berhitung. Literasi dalam pengertian modern mencakup kemampuan berbahasa, berhitung, memaknai gambar, melek komputer, dan berbagai upaya mendapatkan ilmu pengetahuan.

Artinya, aktivitas dan usaha mendapatkan ilmu pengetahuan adalah bentuk literasi. Bisa menonton televisi, membaca berita online, atau menonton video di Youtube. Dengan konsumsi internet berlebihan, mengapa kualitas keaksraan di Indonesia masih minim? Tentu ada yang salah.

Masih ada 11 provinsi menempati angka buta huruf usia 15-59 tahun di atas angka nasional. Yakni Papua (28,75 %), NTB (7,91 %), NTT (5,15 %), Sulawesi Barat (4,58 %), Kalimantan Barat (4,50 %), Sulawesi Selatan (4,49 %), Bali (3,57 %), Jatim (3,47 %), Kalimantan Utara (2,90 %), Sulawesi Tenggara (2,74 %), dan Jateng (2,20 %).

Sedangkan 23 provinsi lainnya sudah berada di bawah angka nasional. Jika dilihat dari perbedaan gender, perempuan memiliki angka buta aksara lebih besar jika dibandingkan laki-laki dengan jumlah 1.157.703 dan 2.258.990 perempuan. Hal ini membuktikan aktivitas di internet tidak seratus persen meningkatkan taraf melek aksara dan literasi. Sebab, kualitas berliterasi adalah pengetahuan terstruktur, bukan sekadar mendapat informasi saja.

Budaya Digital

Jika Indonesia dikatakan sebagai negara tertinggal dalam literasi tentu sangat paradoks. Pada 2011, UNESCO merillis data dari 1.000 orang di Indonesia hanya 1 orang yang membaca serius. Dalam setahun masyarakat Amerika Srikat bisa menghabiskan 12 buku, Jepang 10 buku, sedangkan Indonesia kurang dari 5 buku.

Perpusnas RI telah melakukan penelitian dengan data dan variabel yang sama dan jumlah yang lebih banyak dari data UNESCO 2012 tentang kualitas literasi. Perpusnas menemukan data bahwa, dari 1.000 orang, ada 25 yang membaca serius (Bando, 2016). Itu artinya, data UNESCO tahun 2012 telah gugur karena dari 1.000 orang ada 25 orang yang membaca serius.

Program for International Student Assessment (PISA), pada 6 Desember 2016 menyebut kualitas membaca pelajar Indonesia rendah, karena berada di tingkat 61 dari 69 negara. Data ini membuktikan bangsa ini masih "buta literasi" dan tertinggal dengan negara lain. Jika kita integrasikan dengan era digital justru data itu berbanding lurus. Sebab, masyarakat di era digital seharusnya "banjir literasi" bukan "gersang literasi".

Masalahnya, apa yang mereka baca? Berkualitaskah bacaannya? Apakah mereka tahu metode membaca yang baik dan bisa meningkatkan kualitas hidup? Apakah mereka bisa menyikapi berita hoax dan fake?

Melihat karakter netizen kita yang suka keviralan, membaca "judul" beritanya saja dan mudah membagikan tanpa proses tabayun, tampaknya masyarakat milenial kita masih di tahap pra literasi. Mereka belum sampai posisi era literasi apalagi pasca literasi.

Era banjir informasi harus menjadikan masyarakat selektif memilih informasi. Kualitas pendidikan dan jabatan tidak menjadi jaminan melek literasi digital. Sebagai contoh, mantan Menkominfo Tifatul Sembiring dan Wasekjen MUI Tengku Zulkarnain pernah menyebar foto dan postingan hoax tentang Rohingya

Hal itulah yang seharusnya menjadi fokus literasi. Saat ini kita butuh program percepatan literasi dan revolusi literasi digital. Apalagi masyarakat milenial selalu praktis dan instan dalam mengonsumsi berita. Mereka tidak mau klarifikasi, dan asal membagikan postingan ketika ada berita viral dan bombastis.

Literasi harus direvolusi untuk mencerdaskan masyarakat milenial. Perlu juga percepatan program akselerasi literasi dengan beberapa langkah.

Pertama, pemahaman paradigma literasi tidak hanya membaca dan bahan bacaan bukan hanya manual, melainkan juga digital. Literasi tidak sekadar membaca dan menulis, namun juga keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan berbentuk cetak, visual, digital, dan auditori.

Kedua, pemenuhan akses internet di semua wilayah. Meski di ini kita berada di "benua maya", namun masih banyak wilayah di Indonesia yang belum bisa mengakses Internet. Dengan menyediakan akses Internet, maka literasi digital akan semakin mudah. Suatu tempat yang tidak ada perpustakaannya juga bisa diganti e-library.

Ketiga, implementasi konsep literasi di semua lembaga pendidikan. Kemendikbud (2017:2) merumuskan gerakan literasi secara komprehensif. Yaitu literasi dasar (basic literacy), literasi perpustakaan (library literacy), literasi media (media literacy), literasi teknologi (technology literacy) dan literasi visual (visual literacy).

Selama ini, yang mendapat akses pengetahuan literasi hanya pelajar, mahasiswa, guru, dosen, petugas perpustakaan dan lainnya. Maka gerakan literasi yang digagas Kemendikbud harus didukung. Mulai dari gerakan literasi dalam keluarga, sekolah dan gerakan literasi nasional.

Keempat, menumbuhkan rasa cinta pada ilmu pengetahuan, kebenaran dan fakta. Hal itu tentu harus terwujud dalam kegiatan membaca yang diimbangi validasi, baik membaca digital maupun manual.

Kelima, masyarakat harus mengubah gaya hidupnya yang berawal dari budaya lisan, menjadi budaya baca. Rata-rata masyarakat tidak membaca karena faktor kesibukan mencari nafkah, tidak suka membaca, dan tidak adanya bahan bacaan.

Bahkan, mereka tidak tahu bahan bacaan berkualitas itu seperti apa. Di sinilah perlu adanya edukasi literasi kepada masyarakat secara luas. Harus ada budaya baca yang diciptakan keluarga dan kelompok masyarakat daripada "ngobrol doang" yang tak ada gunanya.

Selain itu, terkait dengan pengadaan bacaan berkualitas tadi, alokasi dana di tiap daerah juga harus ditambah. Sebab, sesuai manifesto UNESCO, tidak ada yang mendidik masyarakat putus sekolah, gelandangan dan tidak bisa mengakses internet kecuali "perpustakaan" dan buku. Perpustakaan menjadi benteng demokrasi terakhir untuk memenuhi sumber informasi dan pengetahuan.

Literasi digital akan cepat dicapai ketika masyarakat bisa mengubah pola pikir. Sikap konsumtif terhadap internet harus diimbangi perubahan cara berpikir dan melek literasi secara komprehensif. Jika tidak, masyarakat akan menjadi korban internet yang dipenuhi pornografi, kriminalitas, berita hoax dan fake.

Fitrah manusia adalah membaca. Sebab, perintah pertama Tuhan pada Nabi Muhammad adalah membaca, bukan menulis, tidur, menyanyi apalagi menyebar hoax. Manusia milenial pasti membaca dan harus melek literasi. Jika tidak mau membaca dan melek literasi, apa pantas kita disebut manusia modern?

Hamidulloh Ibda, pengajar pada Jurusan Tarbiyah STAINU Temanggung

BERITAGAR.ID