Merawat harapan di selembar batik pesisiran

39

Ika Ningtyas Ningtyas Merawat harapan di selembar batik pesisiran Keterangan Gambar : Batik kontemporer produksi Godho Batik Banyuwangi. Foto diambil Ahad (19/2/2017). © Kontributor Beritagar.id / Ika Ningtyas

Batik Banyuwangi jadi pembicaraan setelah tampil di ajang Indonesia Fashion Week, awal Februari lalu. Tak kalah dengan batik daerah lainnya.

Firman Sauqi tak pernah menyangka akan bergelut dengan lembaran batik Banyuwangi. Tapi begitulah takdir telah membawanya. Hari-hari pria berusia 47 tahun itu kini selalu lekat dengan batik.

Seperti Minggu siang di pertengahan Februari, Firman bersama istrinya menghabiskan siang dengan melipat berlembar-lembar batik pesanan sejumlah butik. Di sela-sela aktivitasnya itu, dia melayani beberapa pembeli yang datang langsung ke rumahnya, di Perumahan Permata Giri, Banyuwangi, Jawa Timur.

Batik Firman dengan label “Godho Batik” makin laris setelah digandeng desainer Irma Lumiga dan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi tampil di Indonesia Fashion Week, 2 Februari 2017 di Jakarta Convention Center.

Dalam pekan mode terbesar Indonesia itu, Irma membawakan 71 busana batik Banyuwangi bertemakan “Sekar Jagad Blambangan.” “Bu Irma pesan sekitar 80 lembar kain batik,” kata Firman, Ahad (19/2/2017).

Keikutsertaan Banyuwangi dalam IFW 2017 menjadi salah satu upaya mengenalkan batik Banyuwangi ke kancah nasional. Sepuluh tahun lalu, barangkali batik Banyuwangi belum terlalu dikenal, tenggelam oleh pamor batik-batik dari Yogyakarta, Solo, Lasem, bahkan Madura. Padahal sejumlah industri kecil-menengah di kabupaten di ujung timur Jawa ini sudah memproduksi batik pesisiran sejak era kolonial Belanda.

Batik Banyuwangi merupakan salah satu ragam batik pesisiran, sebuah istilah untuk menyebut batik yang dipakai di luar keraton. Ada 21 motif kuno berbentuk flora dan fauna, di antaranya gajah oling, kangkung setingkes, kopi, kopi pecah, paras gempal, sembruk cacing, gedegan, moto pitik dan sebagainya.

Di antara motif dasar itu, gajah oling yang dianggap paling tua dan khas. Bentuknya mirip belalai gajah atau tanaman paku (pakis). Motif ini selalu tertera di setiap motif batik Banyuwangi lainnya sebagai pembeda dengan batik daerah lain.

Pada 2013, pemerintah Banyuwangi melejitkan nama batik Banyuwangi melalui ajang Festival Batik. Acara ini pun dihelat rutin setiap tahun dengan kegiatan rutinnya berupa fashion show, lomba desain, mencanting, serta pameran IKM batik.

Godho Batik adalah salah satu IKM yang terdampak dari geliat ini. Firman bercerita, dia memulai Godho Batik pada 2010, dan usahanya mulai menanjak tiga tahun kemudian. IKM ini memproduksi batik tulis dan batik cap, baik dari pewarna sintetis maupun pewarna alam.

Dia mengeksplore berbagai bahan dari alam seperti daun pepaya, ketepeng dan sonokembang menjadi paduan warna yang memesona. Keterampilan memakai pewarna alam ini, salah satunya dipelajari setelah dirinya ikut pelatihan dari Balai Batik Yogyakarta.

Godho Batik tak melulu mengeksplore motif-motif kuno Banyuwangi melainkan juga memperkayanya dengan sentuhan motif dan warna batik Bali. Lihat saja pada lembaran batik yang dia gantung di dinding.

Batik kontemporer produksi Godho Batik Banyuwangi 3. Foto diambil Ahad (19/2/2017).
Batik kontemporer produksi Godho Batik Banyuwangi 3. Foto diambil Ahad (19/2/2017).
© Ika Ningtyas /Kontributor Beritagar.id

Batik perpaduan berbagai motif tampil ekspresif dalam balutan warna-warna elegan mulai coklat, merah marun, hijau daun dan kuning gading.” Desain Godho Batik itu lebih kontemporer,” kata ayah tiga anak ini.

Sebelum bergelut dengan batik Banyuwangi, Firman merantau ke Bali sejak 1999-2000. Perkenalannya dengan batik memang bermula di Pulau Dewata. Selama 10 tahun dia malang-melintang memproduksi sprei batik untuk hotel-hotel. Saat itulah dia mengetahui batik Banyuwangi yang banyak dijual ke Bali.

Saat Indonesia dilanda krisis moneter, tahun 2001 dia memutuskan pulang kampung lalu meneruskan usaha sprei batik Bali dengan nama “Vier Godho”. Oleh seorang temannya, sprei-sprei ini dijual keliling dari rumah ke rumah secara kredit. Usahanya ini tak berlangsung lama, karena banyak pembeli menunggak cicilan. Firman lalu kerja serabutan, mulai jadi kontraktor hingga melukis.

Pada 2010, dia mulai melirik usaha batik Banyuwangi bersama salah satu pengusaha. Pria lulusan SMA Pertanian ini mulai serius menekuni batik tulis dan mengajari dua perempuan muda sebagai pecanting.

Setelah beberapa kali menyuplai pengusaha batik, Firman akhirnya memutuskan mandiri, dengan mengandalkan promosi melalui media sosial dan pameran-pameran. Kerja kerasnya membuahkan hasil, Godho Batik kini memiliki 14 pecanting dan enam perajin batik cap.

Dalam sebulan, Godho Batik bisa menjual minimal 100 lembar kain batik tulis melalui empat galeri di Banyuwangi. Pemesannya berasal dari Jakarta, Bali, dan Surabaya. Firman membanderol batiknya paling mahal yakni Rp5 juta, berbahan sutra dengan pewarna alam. Firman menyadari harga batik tulis tak mampu dijangkau banyak golongan. Maka, dia juga memproduksi batik cap dengan harga lebih miring, yakni Rp85 ribu per lembar.

Mulanya, Firman kesulitan mencari perajin batik tulis di saat usahanya mulai laris. Dia pun menitipkan pesan kepada dua pecantingnya dari desa, untuk mengajak tetangga-tetangga lain. Firman menyediakan semua bahan baku, mulai kain dan pewarna, termasuk upah yang menggiurkan, sekitar Rp90 ribu per lembar kain. Tawaran itu akhirnya membuahkan hasil. Para pecanting yang bergabung rata-rata berusia di bawah 30 tahun.

Dalam tujuh tahun terakhir, ada sekitar 30an IKM batik yang tumbuh bersamaan dengan Godho Batik dari sebelumnya kurang dari 10 IKM. Firman pun bergiat mengumpulkan 23 IKM, lalu membentuk Paguyuban Sekar Jagad Blambangan pada 2015, dengan Firman sebagai kordinator.

Menurut dia, paguyubannya sedang berjuang agar produk batik Banyuwangi makin familiar dipakai oleh pegawai dan pelajar. “Kehadiran batik printing masih jadi ancaman besar,” katanya.

Geliat popularitas batik Banyuwangi juga dirasakan Sanggar Seblang Batik. Namun bedanya, usaha milik Umi Sukaesih ini hanya memproduksi batik tulis dengan 21 motif kuno.

Bagi Umi, membuka sanggar batik bukan berbisnis semata, melainkan melestarikan batik sebagai warisan budaya dari keluarganya. “Batik cap atau printing buat saya itu bukan batik,” kata Umi yang memulai Sanggar Seblang pada 1993.

Umi adalah generasi keempat di keluarganya yang memproduksi batik. Kemahirannya itu diwarisi turun-temurun dari neneknya yang tinggal di Kelurahan Temenggungan, salah satu kampung batik tertua di Banyuwangi. Namun dulunya, usaha batik keluarganya berskala rumahan, yang dijual ke salah satu pedagang pasar.

Pada 1993, Umi dan keluarganya memutuskan pindah dari Temenggungan ke Mojopanggung seperti saat ini. Dia berniat merintis sanggar batik tulis yang lebih serius. Untuk melestarikan motif-motif kuno, Umi berburu batik lawas yang masih disimpan oleh keluarganya.

Usaha Umi akhirnya berkembang. Menurut bagian pemasaran Sanggar Seblang, RR Woro Andalusia, pelanggan tetap batiknya telah merambah dari Jakarta, Surabaya, Jember, Madiun, dan Blora.

Selembar batiknya dibanderol antara Rp500 ribu hingga Rp2,5 juta. Paling sedikit, Sanggar Seblang bisa menjual batik senilai Rp10 juta sebulan. “Kalau ada Festival Batik penjualan meningkat minimal Rp30 juta sehari,” katanya.

Umi mendirikan sanggar yang menyatu dengan rumahnya di Jalan Agus Salim RT 02 RW 01 Kelurahan Mojopanggung, Kecamatan Giri, Banyuwangi. Sanggar Seblang terbagi dua bagian, satu untuk ruang pamer dan lainnya ruang produksi.

Di ruang pamer, Umi mendesain sanggarnya berasitektur rumah adat Osing, berdinding bambu. Lengkap dengan satu set kursi, meja dan lampu-lampu kuno. Berlembar-lembar kain batik tulis, beraneka motif dan warna tersaji mengelilingi dinding.

Di salah satu sudut, Umi memajang dua lembar kain batik lawas, berwarna coklat dan putih, dengan motif moto pithik. “Ini milik salah satu kerabat, dibuat tahun 1913,” kata perempuan berusia 50 tahun ini.

Sementara di ruang produksi, ada enam perajin meriung dengan canting di tangan. Mereka menorehkan lilin mengikuti pola motif rantean pada selembar kain mori putih. Usia para perajin itu terentang mulai 24 tahun hingga 40an. Lembaran batik yang mereka geluti nantinya akan dijadikan ikat kepala tradisional alias udheng, pesanan salah satu pelanggan.

Mike Devi adalah salah satu perajin termuda di Sanggar Seblang. Gadis 24 tahun ini baru setahun belajar membatik. Perkenalannya dengan batik pun tak sengaja, saat dia harus menemani adiknya belajar mencanting untuk lomba di sekolah. “Awalnya susah banget, tapi setelah bisa malah ketagihan,” kata warga Kelurahan Banjarsari ini.

Perajin batik tulis di Sanggar Seblang Batik Banyuwangi. Foto diambil, Ahad (19/2/2017).
Perajin batik tulis di Sanggar Seblang Batik Banyuwangi. Foto diambil, Ahad (19/2/2017).
© Ika Ningtyas /Kontributor Beritagar.id

Setelah dua bulan belajar, Devi tertarik menjadi perajin batik tulis. Dia pun meninggalkan pekerjaannya sebagai pelayan toko. Kini, Devi bisa menyelesaikan selembar batik antara 2-3 hari, tergantung kesulitan setiap motif.

Perempuan lulusan sekolah menengah pertama (SMP) ini, mendapat upah sekitar Rps300 ribu per minggu. Upah ini diakuinya lebih banyak ketimbang hanya bekerja di toko.

Bagi Umi, tak gampang mencari generasi muda yang mau membatik seperti Devi. Sebab dengan banyaknya batik cap dan printing buatan pabrik, tak hanya mengancam IKM batik tulis namun juga mematikan gairah para perajin. “Perajin jadinya malas membuat batik, karena dengan cap lebih mudah dan murah,” kata Umi dengan nada gelisah.

Perajin Godho Batik Banyuwangi mewarnai batik cap. Foto diambil Ahad (19/2/2017).
Perajin Godho Batik Banyuwangi mewarnai batik cap. Foto diambil Ahad (19/2/2017).
© Ika Ningtyas /Kontributor Beritagar.id

Pasang surut batik Banyuwangi

Usia Asmah kini menapak 79 tahun. Tubuhnya yang renta tak mengurangi semangatnya berkisah tentang masa muda, tentang batik yang melekat pada hidupnya. Asmah lahir dari keluarga pembatik di Kampung Temenggungan, letaknya bersisian dengan Pendopo Sabha Swagata. “Saya mulai membatik saat duduk di kelas empat SD,” kenang Asmah Sabtu (9/2/2017).

Sekitar tahun 1950an,di kampong itu banyak keluarga yang mengandalkan usahanya dengan membatik. Para perajin di kampung, kata Asmah, menyerahkan lembaran batik itu kepada pedagang-pedagang beretnis Tionghoa. Selanjutnya, batik-batik tersebut dijual ke pasar tradisional atau ke luar daerah. Batik saat itu amat laris di pasar lokal, baik untuk jarik, gendongan bayi, atau dipakai untuk menari. “Dulu harga batik cuma 20 sen,” kata ibu tiga anak ini.

Sejarawan Banyuwangi, Suhalik, mengatakan, IKM batik Banyuwangi awalnya diduga tumbuh di Kampung Kauman -yang terletak di timur Pendopo Sabha Swagata. Jaringan pedagang dan perajin batik Kauman ini semula berpusat di Solo dan akhirnya meluas ke kampung Kauman di daerah lain termasuk Jawa Timur. Selain pedagang muslim, etnis Tionghoa juga memainkan peran penting menggerakkan usaha batik Banyuwangi.

Motif Gajah Oling sebagai motif khas batik Banyuwangi produksi Godho Batik. Foto diambil Ahad (19/2/2017)
Motif Gajah Oling sebagai motif khas batik Banyuwangi produksi Godho Batik. Foto diambil Ahad (19/2/2017)
© Ika Ningtyas /Kontributor Beritagar.id

Menurut Suhalik, hampir setiap desa di Banyuwangi dulunya memiliki perajin batik tulis. Namun era IKM batik, hanya bertahan hingga tahun 1970an, setelah diterpa gelombang batik cap dan printing. Apalagi hampir empat dasawarsa pemerintah daerah tak pernah memberikan sentuhan pada industri batik. Banyak perajin berguguran. “Hanya sebagian perajin-perajin di Kampung Temenggungan yang mampu bertahan dari badai tersebut,” kata penulis buku Sejarah dan Budaya Banyuwangi ini.

Ada tiga IKM batik yang masih berdiri di Temenggungan. Salah satunya yang tertua adalah Batik Sritanjung, dibuka pada 1981. Pemiliknya, Ana Nemi Balqis, bercerita, dia merintis Batik Sritanjung di usia 23 tahun, setelah mendapatkan pelatihan mencanting dari pemerintah daerah. Pelatihan yang diikuti 60 perempuan itu untuk melahirkan generasi-generasi baru perajin batik tulis.

Bisa disebut, Batik Sritanjung mempelopori kembali geliat IKM batik setelah terpuruk tahun 1970an. Sebagai satu-satunya IKM yang terbesar saat itu, pelanggan Batik Sritanjung mulai kelas. Batik ini dikenakan pejabat provinsi hingga artis Jakarta. Harga batiknya lumayan menguras kocek. Mulai Rp1 juta hingga Rp6,5 juta.

Menurut Nemi, dia fokus mempertahankan motif-motif batik kuno Banyuwangi dengan pilihan warna yang lebih lembut dan sedikit gelap. Batik Sritanjung mencapai puncak di awal 1990 dengan mempekerjakan 35 perajin dari warga sekitar. Kini setelah usianya makin menua dan IKM batik kian menjamur, dia hanya mempekerjakan 20an perajin.

Nemi tak hanya berkontribusi menghidupkan kembali gairah membatik di kampungnya. Sejak muda ibu dua cucu ini aktif berkeliling ke desa-desa untuk memberi kursus membatik. “Tapi sedikit yang tertarik, karena tak semuanya sabar membatik,” pungkas perempuan berkerudung ini.

Ika Ningtyas Ningtyas

Stringer Beritagar tinggal di ujung timur Pulau Jawa

MUAT LAGI Original Article