Raja Salman dirikan sekolah di Indonesia: Menyebarkan Wahabi?

79

raja arab

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Rencana kunjungan Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz ke Indonesia memunculkan kembali isu Wahabi, setelah negara itu berencana membangun lembaga setingkat perguruan tinggi.

Kunjungan Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz ke Indonesia memunculkan kembali isu Wahabi, setelah negara itu berencana membangun lembaga setingkat perguruan tinggi di tiga kota besar di Indonesia.

Aliran Islam Wahabi adalah ideologi resmi Kerajaan Arab Saudi yang ajarannya dikenal puritan dan telah menyebar di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia.

Di Indonesia, salah-satu pintu masuk sekte Islam puritan itu untuk menyebar ke masyarakat adalah lembaga pendidikan yang didirikan oleh pemerintah Arab Saudi pada tahun 1980-an, kata pengamat.

Dalam dua atau tiga tahun terakhir, gerakan anti-Wahabi muncul di beberapa daerah seiring dengan menguatnya gerakan antitoleran di dalam umat Islam.

Walaupun istilah Wahabi dianggap menghina bagi kaum Islam puritan, label itu tetap terus dimunculkan oleh penentangnya.

Hak atas foto
Lintas Maduranews

Image caption

Unjuk rasa 'antiulama Wahabi' memecah keheningan kota Pamekasan, di pulau Madura, Jawa Timur, 20 Maret 2015 lalu, sekaligus mengagetkan para pimpinan agama di kota itu.

Kini, menjelang lawatan Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz ke Indonesia, polemik itu muncul lagi di media sosial, setelah kerajaan itu berencana akan membangun tiga lembaga setingkat perguruan tinggi di Makasar, Surabaya dan Medan.

"Rencana pendirian tiga sekolah ini hanya untuk pengembangan bahasa Arab. Jadi tidak ada kaitan dengan hal lain selain pendidikan bahasa Arab," kata Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Osama bin Mohammed Abdullah Al Shuaibi, Selasa (28/02) di Jakarta, dalam jumpa pers resmi.

Osama menegaskan hal itu menjawab pertanyaan BBC Indonesia tentang seberapa jauh komitmen Arab Saudi agar lembaga-lembaga pendidikan itu tidak disalahgunakan untuk penyebaran nilai-nilai radikal.

'Terlalu dibesar-besarkan'

Pemikir Islam dari Universitas Negeri Islam Syarif Hidayatullah, Azyumardi Azra, tidak terlalu mengkhawatirkan pendirian lembaga pendidikan yang disponsori Arab Saudi.

"Saya kira itu dibesar-besarkan, karena tidak banyak lembaga pendidikan di Indonesia yang dibiayai Arab Saudi," kata Azyumardi kepada BBC Indonesia, Selasa (28/02)malam.

Hak atas foto
AFP

Image caption

Sebagian besar masyarakat Islam di Indonesia menerapkan nilai-nilai Islam dengan tetap berpijak pada situasi lokal.

Lagi pula, demikian sambungnya, tradisi pendidikan yang kuat di Indonesia adalah tradisi Islam Indonesia yang diwakili NU dan Muhammadiyah.

"Karena itu ada lembaga pendidikan yang dibantu Arab Saudi, saya kira pengaruhnya tidak signifikan," papar Azyumardi.

Di Jakarta, sejak tahun 1980-an, telah berdiri Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) yang dianggap salah-satu pintu penyebaran ajaran Wahabi sebagai responS setelah Revolusi Iran, yang dikawatirkan akan menyebarkan ajaran Syiah.

Sebagian kalangan Islam moderat meyakini penyebaran sisi ekstrim Wahabi yang anti toleran ikut berperan melahirkan bibit-bibit terorisme.

Arab Saudi memerangi terorisme

Namun Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Osama bin Mohammed Abdullah Al Shuaibi, menegaskan bahwa pemerintah Arab Saudi dan Indonesia justru berkepentingan untuk memerangi terorisme:

Hak atas foto
BBC Indonesia

Image caption

Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Osama bin Mohammed Abdullah Al Shuaibi, pemerintah Arab Saudi dan Indonesia justru berkepentingan untuk memerangi terorisme.

"Saya kira masalah terorisme tidak akan dibahas secara spesifik (dalam pertemuan Raja Arab Saudi dan Presiden Jokowi), namun kerja sama keamanan terus akan dilakukan dua negara, karena masalah terorisme tidak terkait agama, ini yang harus kita kecam bersama," kata Osama.

Azyumardi Azra meyakini masalah terorisme akan menjadi salah-satu sorotan dalam pertemuan dua pemimpin negara, tetapi tidak yakin jika akan menyinggung soal gerakan ekstrem atas nama agama dengan ajaran Salafi.

"Saya kira itu tidak akan dibicarakan karena sensitif," kata Azyumardi. "Keduanya akan pura-pura tidak tahu."

Seperti diketahui, ketika wacana Islam Nusantara merebak dan menimbulkan polemik berkepanjangan di Indonesia, Presiden Jokowi terang-terangan menyebut dirinya mendukung ide tersebut.

Wacana Islam Nusantara dikampanyekan oleh organisasi Nahdlatul Ulama, yang dianggap representasi Islam moderat, sebagai tandingan terhadap yang mereka sebut sebagai 'Islam Arab'.

Sebaliknya, kaum Islam puritan menentang penerapan gagasan Islam Nusantara karena dianggap bertentangan dengan ajaran Islam yang murni.

Islam keindonesiaan

Bagaimanapun, jika lembaga pendidikan yang disponsori pemerintah Arab Saudi itu telah berdiri di Makasar, Medan dan Surabaya, Azyumardi meminta pengelolanya untuk menerapkan kurikulum Islam ala Indonesia.

Hak atas foto
BBC Indonesia

Image caption

Pemikir Islam dari Universitas Negeri Islam Syarif Hidayatullah, Azyumardi Azra, tidak terlalu mengkhawatirkan pendirian lembaga pendidikan yang disponsori Arab Saudi.

"Kalau saya boleh titip pesanan, kurikulumnya harus menyangkut ke-Islaman ke-Indonesiaan, mengenai Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, serta UUD 1945," katanya.

"Jangan murni bahasa Arab, tapi penting penanaman nilai-nilai ke-Indonesiaan, kebangsaan," tambah Azyumardi.

Kembali kepada ajaran Islam murni, yang diperkenalkan ulama abad 18 asal Semenanjung Arab, Muhammad bin Abdul al-Wahhab, pengaruhnya menyebar sampai ke Indonesia.

Sebagian ajarannya telah diadopsi dengan situasi lokal, tetapi kehadiran kelompok antitoleran dianggap menghidupkan lagi ajarannya secara ekstrim, sehingga menimbulkan penolakan oleh kelompok Islam moderat di Indonesia.

Original Article