Saat ambulans disulap jadi tempat pelacuran kota

63

Ambulan tua

Image caption

Ambulan bekas di kota Kopenhagen, Denmark, disulap menjadi tempat para penjaja seks melayani pelanggan-pelanggannya.

Seorang pengusaha dari Denmark, Michael Lodberg Olsen, menyulap sebuah ambulans bekas menjadi tempat para penjaja seks melayani pelanggan-pelanggan mereka di kota Kopenhagen. Ia berdalih, langkah itu bertujuan untuk membantu para pelacur dari resiko kekerasan dan eksploitasi. Dan sesudah ini masih banyak upaya lain yang masuk daftar gagasan-gagasan Michael.

Michael Lodberg Olsen mengajak saya untuk melihat sebuah ambulans tua, yang sudah lama tidak dipakai.

"Jadi apa yang terjadi di sini?" tanya saya.

"Seks," katanya langsung menjawab, sembari mengedipkan matanya dan tergelak.

Saat saya melangkah masuk, suasana dalam ambulans tidak terlalu membangkitkan. Segalanya masih terasa berbau medis – dinding abu-abu, kursi biru. Dan dingin sekali suhu 1°C dan di luar salju turun.

Tapi, ambulans tua yang disebut "Sexelance" ini menjadi ruang aman bagi pekerja seks di Kopenhagen. Mereka bisa membawa langganan ke sini, dengan sepengetahuan para relawan di sekitarnya, yang siap bertindak jika hal-hal buruk terjadi.

Dan statistik menunjukkan bahwa hal itu sering terjadi.

"Sebanyak 45% pekerja seks di Denmark mengalami kekerasan atau ancaman, namun di rumah bordil prosentasenya hanya 3%," jelas Michael, yang menggunakan angka-angka dari Pusat Penelitian Sosial Denmark.

Image caption

Pengusaha, Michael Lodberg Olsen, telah merintis berbagai proyek.

Yang menjadi sasaran bantuan Michael adalah para pelacur yang menjajakan seks di jalanan karena tidak mampu menggunakan rumah bordil.

Sexelance digunakan secara gratis, karena kendati prostitusi sudah disahkan di Denmark sejak tahun 1999, namun masih dianggap melanggar hukum jika para pekerja seks menyewa kamar atau menyewa jasa untuk bisnis mereka.

Selain tersedia para relawan untuk memberikan perlindungan, di dalam ambulan juga ada pengumuman di dinding yang berbunyi, polisi akan dipanggil jika terjadi tanda-tanda kekerasan.

Juga ditempel seruan agar para pekerja seks segera menghubungi pihak berwenang jika mereka menjadi korban perdagangan manusia.

Di dalam ruangan juga terdapat beberapa sarana untuk membantu aktivitas pekerja seks. Ada tisu untuk bersih-bersih setelah berhubungan seks, tiga pilihan kondom, pelumas, bahkan pemanas ruang yang dijalankan dari genset yang diletakkan di luar. Semua peralatan ini disediakan atas masukan para pekerja seks sendiri.

"Orang-orang ini adalah tetangga saya dan teman-teman saya, jadi saya mendengarkan mereka, mereka memiliki gagasan-gagasan terbaik atas apa yang mereka butuhkan," kata Michael. Misalnya, ada pekerja seks yang mengatakan lutut mereka sering sakit.

"Jadi kami atasi dengan ini," katanya, sambil melambaikan sebongkah busa empuk berwarna pelangi pada saya.

Image caption

Bagian dalam ambulan masih bernuansa medis, seperti kursi berwarna biru dan dinding abu-abu.

Image caption

Michael menawarkan busa empuk berwarna pelangi dalam menunjang aktivitas para pekerja seks, karena mereka terkadang mengeluh sakit lutut.

Ketika Sexelance mulai beroperasi pada bulan November 2016, Michael tidak terlalu yakin akan keberhasilannya. Awalnya, orang-orang enggan untuk menggunakannya, terutama para klien. Tapi sekarang tempat itu sudah digunakan 45 kali dan Michael mengatakan orang-orang menjadi lebih nyaman dengan gagasan tersebut.

"Jika para pekerja seks menganggap ini sebuah ide yang bagus, maka mereka akan meminta para pelanggannya untuk datang ke sini dan mengatakan pada mereka, 'Ini tempat yang aman, semua kondom yang kita butuhkan ada di sini, dan ada pemanas!'" kata Michael tertawa.

Ia menawarkan berbagai ide dengan sentuhan humor yang enteng dan lucu, seperti bagaimana pekerja seks akan senang 'mendandani' ambulan dengan tirai, cermin dan karpet merah di dinding.

Image caption

Stiker yang bertuliskan "Jangan mengetuk pintu, jika Ada melihat mobil bergoyang" ditempelkan di dinding ambulans.

Namun dalam melakukannya Michael sepenuhnya serius. Ini bukan pertama kalinya ia menggunakan ambulans tua untuk membantu apa yang ia sebut 'minoritas jalanan,' di Kopenhagen, dan inisiatif pertamanya adalah mendengarkan pendapat orang.

Serupa dengan Sexelance – kali ini, sebuah ambulans tua Jerman tahun 1990an, yang disebut disebut Fixelance. Ambulans tua ini dijadikan tempat untuk mengkonsumsi obat-obatan bagi para pecandu narkoba, dengan menyediakan juga dokter dan perawat, serta dilengkapi perlengkapan seperti jarum bersih dan Naxalone, penangkal untuk overdosis heroin.

Tidak seperti Sexelance, aktivitas di dalam ambulans ini berlangsung cepat. Ada delapan orang yang menyuntikkan heroin dalam tiga jam pertama operasinya.

Tidak seperti Sexelance, Michael mengalami banyak tentangan dari pihak berwenang. Dua rencana dia yang lain untuk membangun ruang pemakaian narkoba permanen dihentikan oleh otoritas.

Namun Fixelance terus dijalankan pada tahun 2011 dengan 100 relawan dan meski diwarnai ketegangan di hari pertama, Fixelance mencapai apa yang Michael inginkan.

Image caption

Fixelance dulunya digunakan untuk di kawasan-kawasan yang dikenal oleh para pengguna narkoba.

Hal ini mendorong pemerintah untuk mengubah kebijakan terkait penggunaan narkoba di Denmark pada 2012 dan kini di Denmark ada lima fasilitas permanen yang disebut 'fixerum'' atau 'ruang mengkonsumsi narkoba. Fasillitas yang pertama di Kopenhagen merupakan yang terbesar di dunia, sedangkan Fixelance ambulans asli itu kini dipamerkan di Museum Nasional Denmark.

Sejauh ini belum ada laporan soal orang yang mengalami overdosis fatal di ruang-ruang itu di mana pun di dunia.

Selain pengoerasian dua jenis ambulans itu, Michael juga menerbitkan sebuah majalah yang disebut Ilegal! yang diedarkan di jalan-jalan di Kopenhagen pada tahun 2013. Majalah ini dijual oleh para pecandu narkoba dan isi dari majalah ini disusun oleh para relawan, agar para pecandu bisa mendapatkan dana untuk mengkonsumsi obat-obatan. Ini adalah sebuah gagasan yang ditentang oleh sejumlah warga, kata Michael.

Tujuan Michael menerbitkan majalah ini adalah untuk menantang apa yang ia anggap prasangka orang bahwa para pengguna narkoba adalah orang-orang yang harus dikurung karena kebiasaan mereka.

"Konsekuensi dari sistem politik kita saat ini adalah bahwa para pengguna narkoba seringkali harus mencuri untuk membiayai kebiasaan mereka," katanya. "Kami berusaha untuk membuat orang-orang ini, yang menderita kecanduan, untuk mengurangi tindak pidana yang mereka lakukan. Ya, mereka mungkin membeli narkoba dengan uang hasil pidana, namun begitulah kenyataan hidup."

Hak atas foto
Alamy

Image caption

Selain, skema dua ambulans, Michael juga menerbitkan sebuah majalah yang disebut Ilegal! yang mulai populer di jalan-jalan di Kopenhagen pada tahun 2013.

Majalah ini bermaksud membuat para penjualnya lebih bermartabat dengan menjajakan majalah kepada orang-orang yang benar-benar ingin membelinya. Oleh karena itu kualitas majalah sangat tinggi, dan para penjual akan mendapatkan laba sebesar sekitar Rp33 ribu.

Rikke Lauritzen dari balai kota Kopenhagen mengatakan majalah Ilegal! sudah banyak memberi manfaat penting di jalan-jalan ibukota.

"Merupakan hal yang naif untuk berpikir bahwa orang-orang itu akan berhenti menggunakan narkoba. Yang terpenting adalah, pihak berwenang menawarkan bantuan dan pengobatan bagi mereka yang ingin berhenti menggunakannya. Satu-satunya cara yang bisa kita lakukan itu adalah lebih melihat ke sisi manusianya, bukan soal kecanduannya," katanya.

Dan kepolisian Kopenhagen mendukung pandangan itu dengan mengatakan bahwa mereka tidak keberatan dengan penjualan majalah itu, selama hal itu sesuai dengan hukum.

Majalah Illegal! juga dijual di London timur untuk pertama kalinya, dua tahun yang lalu, dan mereka berencana meningkatkan tirasnya di ibukota Inggris. Namun Polisi Metropolitan London menegaskan "akan menganjurkan warga agar tidak memberikan uang kepada siapapun yang akan menggunakanannya untuk tindak pidana."

Image caption

Majalah Illegal! juga dijual di London timur untuk pertama kalinya, dua tahun yang lalu, dan mereka berencana meningkatkan tirasnya .

Dan saat tidak terlalu sibuk, Michael juga mengabdikan waktunya untuk membantu hidup para pengumpul di Kopenhagen.

Di sebagian besar kota di Denmark -dan di Eropa- ada skema 'uang jaminan' untuk botol-botol dan kaleng untuk daur ulang – dan pembeli harus mengembalikan wadah itu ke supermarket untuk mendapatkan lagi uang mereka yang menjadi jaminan.

Seperti di banyak tempat dengan skema deposito kontainer, para gelandangan dan pensiunan membongkar-bongkar tempat sampah untuk memulung kaleng dan botol yang dibuang oleh orang-orang yang tak peduli pada uang jaminan karena jumlahnya kecil. Ide sederhana Michael adalah menaruh rak botol di tempat sampah. Kini, dari 5000 tempat sampah di Kopenhagen, sudah 1000 yang dilengkapi rak botol, dan ide Michael ini telah menyebar ke empat kota lainnya di Denmark.

Image caption

Tempat sampah dengan rak untuk menaruh botol atau kaleng bekas.

Sekali lagi, itu gagasan untuk mengembalikan martabat 'minoritas jalan' di Kopenhagen, kata Michael. "Alih-alih memperlakukan mereka sebagai gelandangan miskin, lebih baik kita menganggap mereka sebagai pekerja lingkungan yang sedang melakukan pekerjaan penting," katanya.

Sejauh ini belum ada reaksi negatif terhadap Sexelance. Petugas polisi malah ikut membantu dengan menyarankan tempat terbaik untuk memarkirkan ambulan itu. Dan Michael berharap bahwa gagasan itu akan bernasib seperti Fixelance: menjadi fasilitas permanen bagi pekerja seks Kopenhagen, yang diawaki oleh dokter dan perawat.

"Ini pertama-tama dan terutama soal keselamatan. Tetapi lebih dari itu, ini juga tentang kesehatan yang lebih baik dan bermartabat," ujar Michael.

"Anda melihat sendiri bagaimana dinginnya suhu di luar, dan biasanya perempuan-perempuan itu melayani para pelanggannya di atas bangku (taman), atau di dalam mobil. Jadi, saya pikir kita tidak bisa membiarkan mereka melakukan hal itu berada di luar tanpa bantuan dari kita."

Original Article