Tagar #DaruratDemokrasi, #DaruratPKI, dan ‘pembentukan opini massa’

23
Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Lewat pernyataan resminya, LBH-YLBHI mengatakan bahwa mereka yang hadir di dalam gedung saat terjadi pengepungan sedang mengikuti acara kesenian.

Saat terjadi pengepungan terhadap kantor LBH Jakarta dan YLBHI di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, oleh sekelompok massa yang menduga sedang terjadi kegiatan terkait PKI atau komunis, muncul tagar #DaruratDemokrasi.

Massa yang datang sepanjang Minggu (17/9) malam sampai Senin (18/9) dini hari itu menuntut penutupan kantor LBH Jakarta karena mereka menduga di dalam gedung tersebut sedang digelar kegiatan terkait PKI atau komunis. Aksi itu juga diwarnai dengan pelemparan batu dan provokasi.

Lewat pernyataan resminya, LBH-YLBHI mengatakan bahwa mereka yang hadir di dalam gedung sedang mengikuti acara kesenian 'Asik Asik Aksi' yang menampilkan pertunjukan musik dan pembacaan puisi sebagai aksi keprihatinan setelah sehari sebelumnya acara seminar sejarah juga dibubarkan oleh aparat.

"LBH-YLBHI telah berulang kali menjelaskan bahwa tidak ada acara terkait PKI, aparat kepolisian mulai dari Kapolsek Menteng, Kapolres Jakarta Pusat, Kabaintelkam Mabes Polri juga Kapolda Metro Jaya telah melakukan klarifikasi langsung, melihat semua bahan, mengawasi terus menerus dan mengakui serta menjelaskan kepada massa bahwa tidak ada acara yang berkaitan sama sekali dengan PKI atau Komunisme. Tetapi massa tidak mau mendengar dan melawan aparat," menurut pernyataan tersebut.

Dalam tiga hari terakhir, tagar #DaruratDemokrasi muncul sedikitnya kurang lebih dalam 20.000 cuitan.

Yang tercatat pertama menggunakannya adalah organisasi KontraS dengan cuitan berisi ajakan kepada pengguna media sosial untuk mengirimkan pesan pendek kepada Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan memintanya melindungi kebebasan berekspresi setelah kepolisian 'menghalangi' peserta seminar berjudul 'Pengungkapan Sejarah 1965/1966' masuk ke gedung LBH Jakarta.

Lompati Twitter pesan oleh @KontraS

#DaruratDemokrasi terjadi lagi pdhl amanat konstitusi & reformasi menegaskan bhw kebebasan berpendat adalah hak. Ayo ramai2 sms KAPOLRI! pic.twitter.com/wHSDL2M601

— KONTRAS (@KontraS) 16 September 2017

Hentikan Twitter pesan oleh @KontraS

Namun, penggunaan tagar tersebut melesat sekitar pukul 22.00 WIB pada Minggu (17/9) malam, ketika massa mulai datang mengepung kantor LBH-YLBHI.

Cuitan lain yang juga banyak dibagikan juga berasal dari akun Youth Proactive yang menyertakan video dari 'negosiasi' antara pihak Kepolisian dan massa yang masih mengepung dan mencoba untuk masuk dan dari pihak LBH Jakarta yang menjelaskan bahwa orang-orang di dalam gedung sedang mencoba pulang.

Dalam video singkat tersebut terdengar beberapa orang bersahut-sahutan yang menyatakan, "Orang kata Presiden 'gebuk'" dan "Presiden Jokowi sudah bilang 'gebuk'".

Lompati Twitter pesan oleh @BabangBachri

Baru ancaman aja ga seberapa di banding kekejaman dan kebiadaban pki yang membunuh jendral2. #bumiHanguskanPki

— bachri (@BabangBachri) 17 September 2017

Hentikan Twitter pesan oleh @BabangBachri

Yang menarik, sekitar satu jam kemudian, muncul tagar #DaruratPKI yang pertama muncul dari akun @juku3ja untuk membalas cuitan dari lembaga Indonesia Corruption Watch yang mengabarkan soal pengepungan oleh massa.

Lompati Twitter pesan oleh @juku3ja

#daruratpki kali yg benar

— #DaruratPKI (@juku3ja) 17 September 2017

Hentikan Twitter pesan oleh @juku3ja

Namun tagar itu kemudian menjadi hidup, populer, dan digunakan sebagai cara untuk 'mengingatkan' lagi akan apa yang mereka sebut sebagai 'pemberontakan' dan 'kebiadaban PKI'. Hanya sejak Minggu (17/9) malam, tagar ini tercatat sudah digunakan kurang lebih dicuitkan 13.000 kali

Lompati Twitter pesan oleh @ekowBoy

Ini bukti rakyat Indonesia tdk pernah lupa dg kebiadaban PKI membantai Umat Islam & TNI, negara hrs peka #DaruratPKI pic.twitter.com/nlxwN6HVS6

— Eko Widodo (@ekowBoy) 17 September 2017

Hentikan Twitter pesan oleh @ekowBoy

Lompati Twitter pesan oleh @mkhumaini

TAP MPRS No.25 Tahun 1966 Tentang Pembubaran PKI Masih Berlaku.
Jangan Biarkan PKI Atau Neo PKI Tumbuh Lagi di NKRI
Yg Setuju RT#DaruratPKI pic.twitter.com/mcD2lP9wXa

— M. Khumaini (@mkhumaini) 17 September 2017

Hentikan Twitter pesan oleh @mkhumaini

Hak atas foto Twitter
Image caption Beberapa cuitan terpopuler yang menggunakan tagar #DaruratPKI.

Sementara itu, pengguna lain, @kvnpahlev menyoroti adanya akun-akun berbeda yang mencuitkan hal yang isinya sama persis, bahkan sampai ke jumlah tanda baca. Dia menduga adanya aksi terorganisir untuk membentuk opini publik, baik di media sosial melalui unggahan-unggahan kembar tersebut dan aksi pengepungan yang berlangsung di LBH Jakarta.

Lompati Twitter pesan oleh @kvnpahlev

This screenshot that i take minutes ago proves that today's mass congestion at LBHI is organised and pre-meditated. #daruratdemokrasi pic.twitter.com/cMKt7YPewN

— Kevin Pahlevi (@kvnpahlev) 17 September 2017

Hentikan Twitter pesan oleh @kvnpahlev

Direktur Komunikasi Indonesia Indicator, Rustika Herlambang, membenarkan bahwa cuitan seragam di media sosial memang sengaja direncanakan, baik dari segi pembuatan akun, atau tema apa yang harus dibicarakan dan dalam konteks apa tema itu dibicarakan.

Namun Rustika mengatakan sulit untuk memisahkan apakah unggahan tersebut dilakukan oleh buzzer manusia atau oleh bot karena keduanya bisa "persis" isi cuitannya.

"Artinya ada buzzer manusia yang dibayar atau mungkin tidak dibayar untuk menguasai persepsi publik, yang merupakan tujuan penting di media sosial," ujar Rustika.

Apakah penggunaan bot efektif?

Menurut Rustika, efektif atau tidak efektif penggunaan suatu bot "tergantung isu yang dibawanya".

"Ada tema yang bisa jadi trending topic pertamanya oleh bot, lalu orang ikut-ikutan tanpa tahu itu isunya apa, kenapa ini jadi populer. Apakah isu yang dibawanya masuk dalam frekuensi mereka? Menyentuh hati atau emosi mereka? Maka mereka akan sangat mudah dipengaruhi," ujar Rustika.

Dan karena isu komunisme serta PKI sampai sekarang masih menjadi sesuatu yang dianggap sensitif, maka tagar yang beredar bisa mendapat "cantolan yang besar" terhadap pengguna media sosial.

"Yang paling penting bukan benar atau tidak benarnya, tapi bagaimana dampaknya. Orang ingin mempercayai apa yang ingin mereka percayai," ujar Rustika.

BBC Indonesia