Tak ada maaf bagi peserta curang dalam ujian CPNS

20
Pemeriksaan peserta ujian Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) dengan sistem Computer Assisted Test (CAT) di Kantor Regional BKN I Yogyakarta
Pemeriksaan peserta ujian Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) dengan sistem Computer Assisted Test (CAT) di Kantor Regional BKN I Yogyakarta
© Humas Kemenpan RB

Setidaknya empat orang peserta yang kedapatan berbuat curang dalam ujian CPNS di lingkungan Kementerian Hukum dan HAM. Pemerintah menegaskan, peserta yang curang akan masuk daftar hitam, dan tidak bisa menjadi Aparatur Sipil Negara seumur hidupnya.

Hingga saat ini baru Kementerian Hukum dan HAM yang menyelenggarakan ujian untuk Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) baru. Sebanyak 211.538 pelamar dijadwalkan mengikuti tes hingga 16 September 2017, di 30 titik lokasi se-Indonesia. Sejak 11 September, empat peserta tes seleksi kompetensi dasar (SKD) itu dinyatakan curang.

''Keempatnya diamankan dari daerah yang berbeda,'' kata Juru Bicara Kementerian Hukum dan HAM, Lilik Bambang Lestari, di Jakarta (16/9/2017), dilansir Jawa Pos. Empat peserta ujian CPNS yang curang itu berasal dari lokasi ujian di Semarang, Makassar, Jakarta, dan Padang.

Dilaporkan JPNN, kecurangan di Bantaeng, Sulawesi Selatan dilakukan dengan membawa kamera saat ujian. Kamera itu disembunyikan di area privat perempuan. Kamera itu digunakannya untuk memotret soal ujian.

Beberapa saat setelah tes dimulai, pelaku minta izin ke toilet. Petugas yang curiga kemudian menyusul. Pelaku terpergok tengah meminta bantuan jawaban dari soal yang sudah sempat difoto dan dikirimkan.

"Tapi peserta langsung diamankan dan dianulir karena ketahuan membawa action camera serta menyembunyikannya di (maaf) kemaluan. Peserta dikeluarkan dari arena," ungkap sumber yang tidak ingin dipublikasikan namanya, Rabu (13/9).

Humas Badan Kepegawaian Negara (BKN), Mohammad Ridwan, mengonfirmasi adanya peserta ujian yang curang di Sulawesi Selatan itu. Menurutnya, pengamanan sudah sangat ketat, bahkan menggunakan alat detektor. Di dalam ruangan ada alat pengganggu sinyal sehingga peserta tidak bisa berkomunikasi dengan pihak luar.

Lain lagi dengan modus di Semarang, Jawa Tengah. Di sela-sela proses body check menuju ruang ujian CAT, seorang peserta kedapatan menyembunyikan alat komunikasi di balik pakaiannya. Foto pelaku bahkan sempat beredar luas lewat internet. Modus yang sama, pernah ditemukan di Yogyakarta pada 2014.

Aksi curang itu diketahui saat pelaksanaan sesi ke-4 Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) CAT Rekrutmen tahun 2017 CPNS Kemenkum dan HAM di MG Setos Hotel, Semarang, Rabu (13/9). Pelaku berniat bekerja sama dengan joki melalui alat komunikasi tersebut.

Pihak BKN menyatakan pelaku telah diserahkan kepada polisi di Polsek Semarang Tengah, dan hasilnya menyatakan tidak ada panitia BKN maupun elemen dari Kemenkumham yang terlibat dalam tindakan peserta tersebut.

Polisi diharapkan bisa menelisik sampai ke joki di balik praktik kecurangan tersebut. Jajaran BKN belum bisa menjelaskan apakah yang menjadi joki itu PNS atau bukan.

"Setiap peserta yang melakukan tindak kecurangan harus dicatat dalam database sebagai daftar hitam tidak akan diberi kesempatan kembali untuk menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN)," tegas Kepala BKN Bima Haria Wibisana dalam keterangan tertulisnya, Sabtu, 16 September 2017.

ASN dimaksud adalah pegawai pemerintah yang berstatus CPNS maupun kontrak. Artinya, pelaku curang yang masuk daftar hitam tidak akan bisa melamar baik untuk menjadi PNS maupun tenaga kontrak. Peserta yang curang dinilai tidak memiliki iktikad baik, tidak sportif, dan tidak jujur. Integritasnya pun dipertanyakan.

Proses ketat mengikuti ujian CPNS

Dijelaskan di situs KemenPAN RB, jaring pengaman telah disiapkan berlapis dengan memperketat pengawasan, sejak sebelum pelaksanaan hingga pada saat tes yang menggunakan sistem CAT (Computer Assisted Test) dilaksanakan.

Seperti yang dilakukan saat ujian SKD di Kantor Regional BKN I Yogyakarta, sebelum masuk ruang CAT setiap peserta harus melalui pemeriksaan ketat beberapa kali. Peserta diberi arahan, termasuk untuk mematuhi aturan berpakaian.

Kemudian peserta melalui verifikasi KTP dan kartu ujian untuk dicocokkan foto dan wajah peserta yang hadir. Jika sesuai, peserta melanjutkan ke tahap pemberian PIN untuk mengerjakan CAT. Setelah itu peserta diperiksa badannya (body check) satu-persatu.

Peserta dilarang membawa barang apapun selain KTP dan kartu ujian. Arloji, USB, handphone, kunci kendaraan, gelang bahkan cincin harus dilepas dan dimasukkan ke dalam tas. Di dekat ruangan tes, peserta wajib menitipkan tas masing-masing.

Saat pemeriksaan pertama, bila ada yang masih kedapatan membawa barang-barang selain KTP dan kartu ujian, petugas akan menyuruh memasukkannya ke dalam tas. Bila ada yang nekat membawa barang "haram" itu ke dalam ruangan ujian, akan dianggap gagal dan tidak boleh mengikuti CAT.

Meski syarat dan aturan telah disosialisasikan, masih ada saja peserta yang lalai dengan perkara sepele. Misalnya soal membawa pasfoto 4×6 untuk kartu peserta ujian. Pegawai BKN pun membantu memotret peserta dan mencetaknya sehingga bisa ikut ujian.

Untuk peserta ujian dari kualifikasi S1, peserta diwajibkan mengenakan kemeja putih polos dan celana hitam. Bagi peserta yang mengenakan hijab, wajib memakai jilbab berwarna hitam polos. Alas kaki wajib memakai sepatu pantopel hitam. Peserta ada yang harus meminjam sepatu petugas BKN, karena dia datang memakai sepatu kets.

"Selama kesalahannya masih ditolerir, kami juga berusaha membantu peserta agar bisa ikut. Kalau kesalahannya fatal seperti bawa kamera, langsung dianulir," kata Mohammad Ridwan kepada JPNN, Rabu (13/9).

BERITAGAR.ID